Sabtu, 05 Maret 2016

Unsur-Unsur Kebudayaan Maluku (Ambon)

   PERALATAN / PERLENGAKAPAN HIDUP MANUSIA

  •       Pakaian Adat
Prianya memakai pakaian adat berupa setelan jas berwarna merah dan hitam, baju dalam yang berenda dan ikat pinggang. Sedangkan wanitanya memakai baju cele, semacam kebaya pendek, dan berkanji yang disuji. Perhiasannya berupa anting-anting, kalung dan cincin. Pakaian ini berdasarkan adat Ambon.
  •     Senjata Tradisional
Senjata tradisional yang terkenal di Maluku adalah parang salawaku . Parang tersebut terbuat dari bahan besi yang khusus. Kepala parang dari kayu keras, seperti kayu besi atau kayu gapusa . sedangkan salawaku terbuat dari kayu yang keras pula. Selain untuk keperluan berperang, parang salawaku dipakai untuk berburu binatang. Senjata lainnya adalah tombak untuk menangkap ikan disebut kalawai. Busur dan panah terdapat juga di Maluku.

  •      Rumah Adat 
Rumah adat Maluku dinamakan Baileo, dipakai untuk tempat pertemuan, musyawarah dan upacara adat yang disebut seniri negeri. Rumah tersebut merupakan panggung dan dikelilingi oleh serambi. ATapnya besar dan tinggi terbuat dari daun rumbia, sedangkan dindingnya dari tangkai rumbia yang disebut gaba-gaba.

 
SISTEM MATA PENCAHARIAN

  •     Pertanian
Orang-orang Ambon pada umumnya mayoritas mereka bertani di lading. Dalam hal ini, sekelompok orang membuka sebidang tanah di hutan, dengan cara menebang pohon – pohon di hutan dan dengan membakar batang – batangnya serta dahan yang telah kering. Ladang yang dibuka dengan cara ini hanya diolah dengan tongkat, kemudian ditanami tanpa irigasi kemudian ditanami kacang-kacangan dan ubi ubian. Orang Ambon juga menanam tebu, singkong, jagung, dan kacang kacangan. Sedangkan buah buahan yang ditanam antara lain pisang, mangga, manggis, gandaria, durian, pala, cengkih juga ditanam oleh orang Ambon. Cengkih sangat mudah perawatannya tetapi harganya cukup tinggi.
  •    Berburu
Di samping pertanian orang Ambon kadang-kadang juga memburu rusa, babi hutan, dan burung kasuari dengan menggunakan jerat dan lembing yang dilontarkan dengan jebakan.

  •     Nelayan  
Penduduk di daerah pantai mayoritas mereka adalah nelayan dan menangkap ikan. Perahu mereka dibuat dengan satu batang kayu dan dilengkapi dengan cadik, perahu ini dinamakan dengan perahu semah. Perahu yang baik adalah perahu yang terbuat dari papan dan dibuat oleh orang Ternate, dinamakan pakatora. Perahu perahu besar untuk berdagang dinamakan jungku atau orambi.

SISTEM KEMASYARAKATAN
Sebagaimana yang telah ditaksirkan oleh Tuhan, manusia itu senantiasa hidup berkelompok sebagai makhluk sosial. Kelompok-kelompok itu lalu membentuk suku-suku atau klen-klen.
ΓΌ  Berikut adalah beberapa ”Sanitri” atau pejabat tradisional dalam kehidupan sosial masyarakat Suku Ambon :
1)      Tuan Tanah :Seseorang yang ahli dalam bidang pertanian dan kependudukan
2)      Kapitan :Seseorang yang ahli dalam peperangan
3)      Kewang :Seseorang yang bertugas menjaga hutan
4)       Marinyo :Seseorang yang bertugas memberikan berita dan pengumuman

*      Perkawinan
Perkawinan di Ambon nampak sudah menerobos ketentuan-ketentuan adat. Penerobodan ini dipake sebagai jalan dan pilihan oleh kedua pengantin lelaki dan perempuan. Bahkan sanksi-sanksi adat bukan lagi merupakan penghalang untuk penerobosan itu, karena mereka mau dan berani memikul resikonya. Walaupun masih tampak hanyalah sekedar memenuhi formalitasmenurut adat, sedangkan hakekatnya adalah guna melaksanakan apa yang sesungguhnya dikehendaki oleh calon suami istri.

v  Bentuk-bentuk perkawinan di Ambon:
1)      Kawin minta bini
Peneyebutan lain kawin ini adalah Kawin dengan meminang. Perkawinan ini dilakukan setelah keduanya sudah saling berjanji untuk kawin kemudian pihak jejaka mengirim utusan untuk mendatangi pihak perempuan meminta atau melamar anak perempuan bekal istrinya disertai dengan membawa bawaan sebagai oleh-oleh untuk membuka pembicaraan. Saat itulah dimusyawarakan tentang besar mas kawin yang disebut dengan harta dan waktu pelaksanaan perkawinannya.

2)      Kawin lari bini
Kawin lari bini maksudnya adalah kawin lari. Perkawinan ini dilakukan oleh sejoli dengan lari bersama dengan alasan menghindari kekecewaan dan malu karena rencana perkawinannya ditolak. Si gadislah yang meninggalkan rumah orang tuanya. Tidak ada paksaan atau ancaman dari si jejaka. Mereka melakukannya atas dasar suka sama suka dan sepakat bersama dengan meninggalkan surat di tempat tidur si gadis atau orang tuanya yang menerangkan dengan siapa dan ke tempat mana dia pergi.

3)      Kawin ambil anak
Sesuai dengan namanya, perkawinan ini di lakukan dengan menjadikan menantu sebagai anak sendiri maka tentu si suami masuk ke dalam kerabat si istri dan wajib baginya melepaskan fam asalnya menjadi memakai fam kerabat si istri. Hal ini merupakan adopsi yang tidak murni karena berbeda dengan pengertian adopsi pada umumnya yaitu mengangkat anak orang lain menjadi anak sendiri bukan yang berstatus suami. Perkawinan ini dilakukan dengan alasan bahwa suami adalah pendatang baru atau orang asing sehingga perkawinan jenis ini bisa dikatakan seperti kawin nyalindung kagelungdi daerah Jawa Barat yang berarti suami mencari perlindungan kepada istrinya.

4)      Kawin tanpa harta kawin
Pengantin menikah melalui perkawinan yang sah tanpa adanya pembayaran uang jujur yang disebut harta dan sebagai imbalannya suami harus menyerahkan seorang anaknya yang laki-laki kepada mertuanya dan memakai fam mertuanya itu.



5)      Kawin ambil piara
Jenis kawin ini disebabkan atas toleransi adat terhadap pasangan yang sudah hidup bersama tetapi belum berstatus kawin sah. Si pria diizinkan tinggal serumah beserta anak perempuannya atas kehendak orang tua si perempuan sampai menghasilkan anak. Menurut mereka hal ini merupakan sesuatu yang lumrah. Setelah menghasilkan anak, baru diadakan perkawinan.


*      Organisasi Desa
Berikut beberapa contoh organisasi kemasyarakatan suku Ambon tentunya dengan tujuan dan fungsi sodial yang berbeda di kehidupan masyarakat:
1)      Organisasi Patasiwa dan Patalima
Patasiwa berarti Sembilan bagian dan Patalima berarti Lima bagian. Organisasi ini terbentuk untuk menghimpun kekuatan politik.
Patasiwa dan patalima muncul dikarenakan kepercayaan sebagai nenek moyang terdahulu orang Ambon terhadap tiga putra bersaudara dari pulau Seram yang selamat dari banjir bandang namun ketiganya terpisah. Patasiwa dan Patalima hidup dalam kerjasama sosial dan ekonomi

2)      Jojaro
Organisasi yang anggotanya terdiri dari pemudi-pemudi yang sudah dewasa tetapi yang belum kawin atau bisa disebut juga organisasi kewanitaan.

3)      Ngungare
Perkumpulan-perkumpulan pemuda yang belum nikah atau bisa disebut dengan organisasi kepemudaan.

4)      Pela
Persatuan-persatuan persahabatan antara warga-warga dari dua desa atau lebih yang berdasarkan adat serta kewajiban membantu dan bekerjasama dalam bahaya atau kesusahan.

Pembagian Pela ada 2 macam:
*      Pela Keras: kerjasama antar Soa yang bertugas membantu dalam hal peperangan atau bahaya serangan dari pihak lain. Perkawinan antara anggota-anggota dari satu pela keras dilarang keras. Hal ini diyakin karena sebuah sejarah yang saat itu tengah mengadakan sumpah janji untuk menjadi kesatuan bersahabat dengan meminum bersama segelas darah dari tetesan jari tangan mereka. Sumpah janji ini berhubungan dengan insiden persaingan memperluas kekuasaan dan penaklukan sekitar pulau Seram antara kerajaan Ternate, Tidore, Bacan, dan Jailol
*      Pela Tempat Sirih: bertugas bantu membantu dan bergotong royong dalam pembangunan balai desa, gereja, masjid, atau sekolah. Berbeda dengan Pela kerasPela tempat sirih wajib menerima bila ada seorang anggota se-pela menginap di rumah, bahkan larangan menikah antara anggota se-pela tempat sirih tidak keras. Istilah “tempat sirih” asal dari suatu adat kuno untuk menyajikansirih kepada tamu.


 BAHASA
Bahasa orang Ambon sangat mirip dengan bahasa Jerman , Belanda dan Inggris . Kata yang sering saya ucapkan setelah menerima sebuah hadiah atau oleh - oleh adalah " Danke", kata ini mirip sekali dengan bahasa Jerman . Kata - kata bahasa Maluku sangat Mudah diingat asal kita ingat suku katanya saja ,“Kita” di ambon menjadi “katong” asal kata dari “kita orang”, “mereka” menjadi “dong” asal kata dari “dia orang”. Untuk kata kepemilikan menggunakan kata “punya” yang disingkat menjadi “pung”, contohnya apabila kita ingin menyebutkan “rumah saya” maka menjadi “beta pung rumah”. Ada beberapa hal yang perlu diingat antara lain, mereka cenderung menyingkat kata, bunyi vokal “e” akan selalu dibaca “e’ “, dan untuk kata yang berakhiran dengan “n” selalu menjadi “ng”. Dengan demikian dapat dipahami kenapa kata “punya” menjadi “pung” dan “pergi” menjadi “pi”, “jangan” menjadi “jang”, “dengan” menjadi “deng”, “teman” menjadi “tamang”, dan “makan” menjadi “makang”. Ahaa… kami pun mulai asik bercakap-cakap dalam bahasa Maluku “katong pi jua?” atau “ayo katong pi makang, beta su lapar” “epenka” “jang mara”. 


KESENIAN
kesenian yang paling terkenal di Maluku / ambon adalah seni tari .

*       Tarian  bambu gila


Tarian ini juga dikenal dengan nama Buluh Gila atauBara Suwen. Untuk memulai pertunjukan ini sang pawang membakar kemenyan di dalam tempurung kelapa sambil membaca mantra dalam ‘bahasa tanah’ yang merupakan salah satu bahasa tradisional Maluku. Kemudian asap kemenyan dihembuskan pada batang bambu yang akan digunakan. Jika menggunakan jahe maka itu dikunyah oleh pawang sambil membacakan mantra lalu disemburkan ke bambu. Fungsi kemenyan atau jahe ini untuk memanggil roh para leluhur sehingga memberikan kekuatan mistis kepada bambu tersebut. Roh-roh inilah yang membuat batang bambu seakan-akan menggila atau terguncang-guncang dan semakin lama semakin kencang serta sulit untuk dikendalikan.

 RELIGI
Pada umumnya penduduk Maluku telah beragama Nasrani dan Islam. Namun meski begitu, mereka masih percaya akan roh-roh yang harus dihornati dan diberi makan, minum, dan tempat tinggal yang disebut dengan Baileu, agar tidak menjadi gangguan bagi mereka yang hidup di dunia ini. Orang-orangpun diwajibkan melakukan upacara terlebih dahulu sebelum memasuki baileu dengan melalui perantara antara manusia dengan roh-roh nenek moyang. Selain itu juga harus berpakaian adat berwarna hitam dengan saputangan merah yang dikalungkan pada bahu. Dalam baileu terdapat pamiliyaitu batu yang dianggap keramat (berkekuatan gaib) yang besarnya kira-kira dua meter persegi. Batu itu digunakan sebagai altar tempat kurban-kurban dan sajian. Kini arti dari semua itu telah hampir lenyap.


Dalam keyakinan religi mereka masih mempercayai hal-hal yang akan membawa bencana bagi yang tidak menjalankannya. Misalnya menjalankan upacara bersih desa, yang mencakup bangunan-bangunan baileu, rumah-rumah dan pekarangan. Bila tidak dilakukan dengan baik maka orang bisa jatuh sakit, kemudian mati. Seluruh desa bisa terjangkit penyakit atau panennya gagal.

Komposisi pemeluk agama di sana pun sangat variatif di mana Islam adalah agama mayoritas (Islam 54%, Kristen 44,3%, lain-lain 1,7 %). Di Ambon yang beragama Islam juga adanya dua golongan penganut yang mungkin disamakan dengan penganut Islam di Jawa yaitu abangan dan santri
  

 ILMU PENGETAHUAN
Orang Ambon mengenal upacara cuci negeri yang pada umumnya sama dengan upacara bersih desa yang dilakukan orang di pulau Jawa. Semua penduduk desa harus membersihkan sesuatu dengan cara yang baik dan benar. Bangunan bangunan yang harus dibersihkan adalah Baileu, rumah rumah warga dan pekarangan, bila tidak dilakukan dengan benar maka akan ada sangsinya yaitu mereka akan jatuh sakit. Seluruh warga desa akan terkena wabah penyakit atau panennya gagal.  

Orang Maluku Tengah pada umumnya mengenal upacara pembayaran kain berkat, yang dilakukan oleh klen penganten laki laki, kepada kepala adat dari desa penganten perempuan, pembayaran itu berupa kain putih serta minuman keras atau tuak, kalau hal ini dilupakan keluarga muda ini akan menjadi sakit dan mati.

Sejarah Suku Ambon Di Maluku 

    Suku Dunia ~ Suku bangsa Ambon mendiami Pulau Ambon, Hitu dan Saparua, Provinsi Maluku. Sebenarnya mereka berasal dari Pulau Seram seperti halnya dengan suku-suku bangsa lain yang lebih dulu mendiami pulau-pulau di Maluku Tengah .

sejarah-suku-ambon

Bahasa Suku Ambon

Bahasa Ambon sendiri merupakan perkembangan dari bahasa asli yang dipengaruhi oleh bahasa Melayu. Ada juga yang menyebut bahasa Ambon sebagai bahasa Melayu Ambon atau Nusalaut. Pemakai bahasa ini sekarang berjumlah sekitar 100.000 jiwa, belum termasuk yang berada di Negeri Belanda. Melihat daerah pemakaiannya bahasa Ambon dibagi ke dalam dialek-dialek : Nusalaut, Saparua, Haruku, Hila, Asilulu, Hatu, Wakasihu, dan lain-lain. Sekarang bahasa Ambon menjadi bahasa pengantar bagi masyarakat yang berbeda-beda suku bangsa di daerah Provinsi Maluku.

Mata Pencaharian Utama Suku Ambon

Pada dasarnya mata pencaharian utama orang Ambon adalah bercocok tanam di ladang dengan tanaman pokok padi, jagung, ubi jalar, ubi kayu, sayur-sayuran, kacang-kacangan, kelapa, kopi, cengkeh, tembakau dan buah-buahan. Sementara itu sagu masih dianggap sebagai makanan pokok. Bahan makanan itu dulu mudah didapat di hutan-hutan, karena tumbuh secara liar. Sekarang tanaman sagu sudah dibudidayakan dengan jalan menanamnya secara teratur seperti menanam pohon kelapa. Selain bertani masyarakat ini suka pula menangkap ikan di perairan sekitar pulau-pulau mereka yang memang kaya dengan hasil laut. Dalam hal pendidikan formal orang Ambon sudah sejak zaman Belanda banyak bersekolah dan memilih pekerjaan sebagai pegawai negeri dan tentara.

Kekerabatan Dan Kekeluargaan Dalam Suku Ambon

Orang Ambon menghitung hubungan kekerabatan melalui garis keturunan pihak ayah (patrilineal), dan pola menetap setelah kawin adalah di lingkungan pihak ayah (patrilokal). Kesatuan kekerabatan yang terpenting adalah matarumah (keluarga batih) yaitu sebuah kesatuan keluarga  yang terdiri dari satu keluarga inti senior dan keluarga-keluarga inti junior dari garis keturunan laki-laki.

Pada tingkat yang lebih luas lagi mereka mengenal bentuk kesatuan kekerabatan berupa keluarga luas terbatas yang disebut soa. Pada masa sekarang istilah soa ini sering mereka kacaukan dengan istilah fam (family, dari bahasa Belanda). Masyarakat Ambon menyebut desa-desa mereka negeri. Kesatuan hidup setempat ini dipimpin oleh seorang kepala Negeri yang lebih sering digelari bapa raja, kebetulan kedudukan ini memang dimiliki secara turun-temurun oleh matarumah dari soa yang paling senior dalam desa tersebut.

Dalam kedudukannya seorang Bapa Raja dibantu oleh suatu lembaga adat yang disebut saniri negeri. Lembaga ini ada beberapa macam. Pertama Saniri raja putih yang terdiri atas raja dan para kepala soa saja. Kedua, saniri negeri lengkap yang terdiri atas raja dan para kepala soa dan para kepala adat. Ketiga, saniri negeri besar yang terdiri atas raja, para kepala soa, kepala adat dan kepala matarumah atau warga masyrakat yang sudah dewasa. Bapa Raja mempunyai tangan kanan yang disebut marinyo (pesuruh). Pada zaman dulu antara satu negeri dengan negeri lain ada yang tergabung ke dalam ikatan adat yang disebut pela, dimana mereka tidak boleh saling menyerang, malahan harus membantu jika salah satu diserang musuh. Masa sekarang ikatan adat pela ini diwujudkan dalam bentuk kerja sama sosial antar desa.

Agama Dan Kepercayaan Suku Ambon

Sekarang orang Ambon sudah memeluk agama Islam atau Kristen. Jumlah pemeluk agama Islam sedikit lebih banyak, dan mereka umumnya lebih terampil dalam bidang perdagangan dan ekonomi umumnya. Sedangkan orang Ambon pemeluk agama Kristen lebih banyak memilih pekerjaan sebagai pegawai negeri, guru, dan tentara. Namun kehidupannya sehari-hari mereka masih menjalankan kegiatan adat tertentu dari kebudayaan lama, dan menjadi salah satu identitas kesukubangsaan yang menonjol, seperti mengadakan upacara Nae Baileu atau upacara Cuci Negeri yang merupakan warisan kepercayaan nenek moyang mereka. Dalam menangani masalah kematian dan pelaksanaan upacaranya mereka selesaikan lewat kesatuan sosial adat yang disebut mubabet.

Nae Baileu adalah sebuah upacara yang bersifat "cuci negeri" yang ditemukan pada msayarakat adat di negeri-negeri Ambon umumnya. Upacara ini berpusat di sebuah balai adat yang mereka sebut baileu. Pada zaman dulu balai adat ini digunakan untuk tempat musyawarah adat dan pelaksanaan upacara religi. Tujuan utama upacara Nae Baileu selain untuk menjauhkan unsur-unsur buruk dari negeri, meminta berkat dan perlindungan kepada roh kakek moyang, juga untuk memperkuat kembali ikatan sosial yang damai antara semua soa yang ada dalam negeri itu.

Menurut terbentuknya sebuah komunitas negeri, negeri itu dibuka pertama kali oleh soa-soa yang digolongkan ke dalam kelompok soa hitam. Biasanya orang-orang dari kelompok soa hitam inilah yang dianggap berhak menjadi raja, sekaligus menjadi tuan tanah yang menentukan tanah mana saja yang boleh digarap oleh soa-soa yang datang kemudian. Menerima soa baru sebagai anggota pada masa dulu diperlukan, terutama untuk menambah kekuatan laskar dalam rangka peperangan antar negeri yang lazim terjadi pada waktu itu. Sekarang upacara Nae Baileu sudah banyak dipengaruhi oleh agama Islam atau Kristen, sesuai dengan agama yang dipeluk oleh mayoritas penduduk sebuah negeri.

Pada zaman Belanda kota Ambon ramai dikunjungi oleh berbagai bangsa dan suku bangsa, sehingga muncullah beberapa istilah penunjuk kelompok pendatang, seperti Tuni, Moni, Mahu, dan Wahan. Tuni adalah istilah untuk menyebut suku-suku bangsa yang berasal dari pulau seram (nunusaku). Pulau seram sering pula disebut Nusa Ina, karena sebagian besar suku bangsa yang tersebar di kepulauan Maluku Tengah dianggap berasal dari pulai ini. Moni adalah istilah untuk menyebut suku-suku bangsa dari daerah sekitar Lautan Pasifik (Papuan dan Melanesian). Mahu dipakai untuk menyebut suku-suku bangsa yang berasal dari Indonesia bagian barat, seperti orang bugis, Makassar, Buton, Minangkabau, dan Jawa. Sementara itu Wahan adalah sebutan untuk menyebut suku-suku bangsa yang berasal dari pulau-pulau sekitar Ambon, seperti orang ternate, Banda, Buru.