Unsur-Unsur Kebudayaan Maluku (Ambon)
PERALATAN / PERLENGAKAPAN HIDUP MANUSIA
Prianya memakai pakaian adat berupa setelan jas berwarna merah dan hitam, baju dalam yang berenda dan ikat pinggang. Sedangkan wanitanya memakai baju cele, semacam kebaya pendek, dan berkanji yang disuji. Perhiasannya berupa anting-anting, kalung dan cincin. Pakaian ini berdasarkan adat Ambon.
Perkawinan
Organisasi Desa
Pela Keras: kerjasama antar Soa yang bertugas membantu dalam hal peperangan atau bahaya serangan dari pihak lain. Perkawinan antara anggota-anggota dari satu pela keras dilarang keras. Hal ini diyakin karena sebuah sejarah yang saat itu tengah mengadakan sumpah janji untuk menjadi kesatuan bersahabat dengan meminum bersama segelas darah dari tetesan jari tangan mereka. Sumpah janji ini berhubungan dengan insiden persaingan memperluas kekuasaan dan penaklukan sekitar pulau Seram antara kerajaan Ternate, Tidore, Bacan, dan Jailol
Pela Tempat Sirih: bertugas bantu membantu dan bergotong royong dalam pembangunan balai desa, gereja, masjid, atau sekolah. Berbeda dengan Pela keras, Pela tempat sirih wajib menerima bila ada seorang anggota se-pela menginap di rumah, bahkan larangan menikah antara anggota se-pela tempat sirih tidak keras. Istilah “tempat sirih” asal dari suatu adat kuno untuk menyajikansirih kepada tamu.
Tarian bambu gila
Tarian ini juga dikenal dengan nama Buluh Gila atauBara Suwen. Untuk memulai pertunjukan ini sang pawang membakar kemenyan di dalam tempurung kelapa sambil membaca mantra dalam ‘bahasa tanah’ yang merupakan salah satu bahasa tradisional Maluku. Kemudian asap kemenyan dihembuskan pada batang bambu yang akan digunakan. Jika menggunakan jahe maka itu dikunyah oleh pawang sambil membacakan mantra lalu disemburkan ke bambu. Fungsi kemenyan atau jahe ini untuk memanggil roh para leluhur sehingga memberikan kekuatan mistis kepada bambu tersebut. Roh-roh inilah yang membuat batang bambu seakan-akan menggila atau terguncang-guncang dan semakin lama semakin kencang serta sulit untuk dikendalikan.
- Pakaian Adat
Prianya memakai pakaian adat berupa setelan jas berwarna merah dan hitam, baju dalam yang berenda dan ikat pinggang. Sedangkan wanitanya memakai baju cele, semacam kebaya pendek, dan berkanji yang disuji. Perhiasannya berupa anting-anting, kalung dan cincin. Pakaian ini berdasarkan adat Ambon.- Senjata Tradisional
Senjata tradisional yang terkenal di Maluku adalah parang salawaku . Parang tersebut terbuat dari bahan besi yang khusus. Kepala parang dari kayu keras, seperti kayu besi atau kayu gapusa . sedangkan salawaku terbuat dari kayu yang keras pula. Selain untuk keperluan berperang, parang salawaku dipakai untuk berburu binatang. Senjata lainnya adalah tombak untuk menangkap ikan disebut kalawai. Busur dan panah terdapat juga di Maluku.
- Rumah Adat
Rumah adat Maluku dinamakan Baileo, dipakai untuk tempat pertemuan, musyawarah dan upacara adat yang disebut seniri negeri. Rumah tersebut merupakan panggung dan dikelilingi oleh serambi. ATapnya besar dan tinggi terbuat dari daun rumbia, sedangkan dindingnya dari tangkai rumbia yang disebut gaba-gaba.
SISTEM MATA PENCAHARIAN
- Pertanian
Orang-orang Ambon pada umumnya mayoritas mereka bertani di lading. Dalam hal ini, sekelompok orang membuka sebidang tanah di hutan, dengan cara menebang pohon – pohon di hutan dan dengan membakar batang – batangnya serta dahan yang telah kering. Ladang yang dibuka dengan cara ini hanya diolah dengan tongkat, kemudian ditanami tanpa irigasi kemudian ditanami kacang-kacangan dan ubi ubian. Orang Ambon juga menanam tebu, singkong, jagung, dan kacang kacangan. Sedangkan buah buahan yang ditanam antara lain pisang, mangga, manggis, gandaria, durian, pala, cengkih juga ditanam oleh orang Ambon. Cengkih sangat mudah perawatannya tetapi harganya cukup tinggi.
- Berburu
Di samping pertanian orang Ambon kadang-kadang juga memburu rusa, babi hutan, dan burung kasuari dengan menggunakan jerat dan lembing yang dilontarkan dengan jebakan.
- Nelayan
Penduduk di daerah pantai mayoritas mereka adalah nelayan dan menangkap ikan. Perahu mereka dibuat dengan satu batang kayu dan dilengkapi dengan cadik, perahu ini dinamakan dengan perahu semah. Perahu yang baik adalah perahu yang terbuat dari papan dan dibuat oleh orang Ternate, dinamakan pakatora. Perahu perahu besar untuk berdagang dinamakan jungku atau orambi.
SISTEM KEMASYARAKATAN
Sebagaimana yang telah ditaksirkan oleh Tuhan, manusia itu senantiasa hidup berkelompok sebagai makhluk sosial. Kelompok-kelompok itu lalu membentuk suku-suku atau klen-klen.
ΓΌ Berikut adalah beberapa ”Sanitri” atau pejabat tradisional dalam kehidupan sosial masyarakat Suku Ambon :
1) Tuan Tanah :Seseorang yang ahli dalam bidang pertanian dan kependudukan
2) Kapitan :Seseorang yang ahli dalam peperangan
3) Kewang :Seseorang yang bertugas menjaga hutan
4) Marinyo :Seseorang yang bertugas memberikan berita dan pengumuman
Perkawinan di Ambon nampak sudah menerobos ketentuan-ketentuan adat. Penerobodan ini dipake sebagai jalan dan pilihan oleh kedua pengantin lelaki dan perempuan. Bahkan sanksi-sanksi adat bukan lagi merupakan penghalang untuk penerobosan itu, karena mereka mau dan berani memikul resikonya. Walaupun masih tampak hanyalah sekedar memenuhi formalitasmenurut adat, sedangkan hakekatnya adalah guna melaksanakan apa yang sesungguhnya dikehendaki oleh calon suami istri.
v Bentuk-bentuk perkawinan di Ambon:
1) Kawin minta bini
Peneyebutan lain kawin ini adalah Kawin dengan meminang. Perkawinan ini dilakukan setelah keduanya sudah saling berjanji untuk kawin kemudian pihak jejaka mengirim utusan untuk mendatangi pihak perempuan meminta atau melamar anak perempuan bekal istrinya disertai dengan membawa bawaan sebagai oleh-oleh untuk membuka pembicaraan. Saat itulah dimusyawarakan tentang besar mas kawin yang disebut dengan harta dan waktu pelaksanaan perkawinannya.
2) Kawin lari bini
Kawin lari bini maksudnya adalah kawin lari. Perkawinan ini dilakukan oleh sejoli dengan lari bersama dengan alasan menghindari kekecewaan dan malu karena rencana perkawinannya ditolak. Si gadislah yang meninggalkan rumah orang tuanya. Tidak ada paksaan atau ancaman dari si jejaka. Mereka melakukannya atas dasar suka sama suka dan sepakat bersama dengan meninggalkan surat di tempat tidur si gadis atau orang tuanya yang menerangkan dengan siapa dan ke tempat mana dia pergi.
3) Kawin ambil anak
Sesuai dengan namanya, perkawinan ini di lakukan dengan menjadikan menantu sebagai anak sendiri maka tentu si suami masuk ke dalam kerabat si istri dan wajib baginya melepaskan fam asalnya menjadi memakai fam kerabat si istri. Hal ini merupakan adopsi yang tidak murni karena berbeda dengan pengertian adopsi pada umumnya yaitu mengangkat anak orang lain menjadi anak sendiri bukan yang berstatus suami. Perkawinan ini dilakukan dengan alasan bahwa suami adalah pendatang baru atau orang asing sehingga perkawinan jenis ini bisa dikatakan seperti kawin nyalindung kagelungdi daerah Jawa Barat yang berarti suami mencari perlindungan kepada istrinya.
4) Kawin tanpa harta kawin
Pengantin menikah melalui perkawinan yang sah tanpa adanya pembayaran uang jujur yang disebut harta dan sebagai imbalannya suami harus menyerahkan seorang anaknya yang laki-laki kepada mertuanya dan memakai fam mertuanya itu.
5) Kawin ambil piara
Jenis kawin ini disebabkan atas toleransi adat terhadap pasangan yang sudah hidup bersama tetapi belum berstatus kawin sah. Si pria diizinkan tinggal serumah beserta anak perempuannya atas kehendak orang tua si perempuan sampai menghasilkan anak. Menurut mereka hal ini merupakan sesuatu yang lumrah. Setelah menghasilkan anak, baru diadakan perkawinan.
Berikut beberapa contoh organisasi kemasyarakatan suku Ambon tentunya dengan tujuan dan fungsi sodial yang berbeda di kehidupan masyarakat:
1) Organisasi Patasiwa dan Patalima
Patasiwa berarti Sembilan bagian dan Patalima berarti Lima bagian. Organisasi ini terbentuk untuk menghimpun kekuatan politik.
Patasiwa dan patalima muncul dikarenakan kepercayaan sebagai nenek moyang terdahulu orang Ambon terhadap tiga putra bersaudara dari pulau Seram yang selamat dari banjir bandang namun ketiganya terpisah. Patasiwa dan Patalima hidup dalam kerjasama sosial dan ekonomi
2) Jojaro
Organisasi yang anggotanya terdiri dari pemudi-pemudi yang sudah dewasa tetapi yang belum kawin atau bisa disebut juga organisasi kewanitaan.
3) Ngungare
Perkumpulan-perkumpulan pemuda yang belum nikah atau bisa disebut dengan organisasi kepemudaan.
4) Pela
Persatuan-persatuan persahabatan antara warga-warga dari dua desa atau lebih yang berdasarkan adat serta kewajiban membantu dan bekerjasama dalam bahaya atau kesusahan.
Pembagian Pela ada 2 macam:
BAHASA
Bahasa orang Ambon sangat mirip dengan bahasa Jerman , Belanda dan Inggris . Kata yang sering saya ucapkan setelah menerima sebuah hadiah atau oleh - oleh adalah " Danke", kata ini mirip sekali dengan bahasa Jerman . Kata - kata bahasa Maluku sangat Mudah diingat asal kita ingat suku katanya saja ,“Kita” di ambon menjadi “katong” asal kata dari “kita orang”, “mereka” menjadi “dong” asal kata dari “dia orang”. Untuk kata kepemilikan menggunakan kata “punya” yang disingkat menjadi “pung”, contohnya apabila kita ingin menyebutkan “rumah saya” maka menjadi “beta pung rumah”. Ada beberapa hal yang perlu diingat antara lain, mereka cenderung menyingkat kata, bunyi vokal “e” akan selalu dibaca “e’ “, dan untuk kata yang berakhiran dengan “n” selalu menjadi “ng”. Dengan demikian dapat dipahami kenapa kata “punya” menjadi “pung” dan “pergi” menjadi “pi”, “jangan” menjadi “jang”, “dengan” menjadi “deng”, “teman” menjadi “tamang”, dan “makan” menjadi “makang”. Ahaa… kami pun mulai asik bercakap-cakap dalam bahasa Maluku “katong pi jua?” atau “ayo katong pi makang, beta su lapar” “epenka” “jang mara”.
KESENIAN
kesenian yang paling terkenal di Maluku / ambon adalah seni tari .
Tarian ini juga dikenal dengan nama Buluh Gila atauBara Suwen. Untuk memulai pertunjukan ini sang pawang membakar kemenyan di dalam tempurung kelapa sambil membaca mantra dalam ‘bahasa tanah’ yang merupakan salah satu bahasa tradisional Maluku. Kemudian asap kemenyan dihembuskan pada batang bambu yang akan digunakan. Jika menggunakan jahe maka itu dikunyah oleh pawang sambil membacakan mantra lalu disemburkan ke bambu. Fungsi kemenyan atau jahe ini untuk memanggil roh para leluhur sehingga memberikan kekuatan mistis kepada bambu tersebut. Roh-roh inilah yang membuat batang bambu seakan-akan menggila atau terguncang-guncang dan semakin lama semakin kencang serta sulit untuk dikendalikan.
RELIGI
Pada umumnya penduduk Maluku telah beragama Nasrani dan Islam. Namun meski begitu, mereka masih percaya akan roh-roh yang harus dihornati dan diberi makan, minum, dan tempat tinggal yang disebut dengan Baileu, agar tidak menjadi gangguan bagi mereka yang hidup di dunia ini. Orang-orangpun diwajibkan melakukan upacara terlebih dahulu sebelum memasuki baileu dengan melalui perantara antara manusia dengan roh-roh nenek moyang. Selain itu juga harus berpakaian adat berwarna hitam dengan saputangan merah yang dikalungkan pada bahu. Dalam baileu terdapat pamiliyaitu batu yang dianggap keramat (berkekuatan gaib) yang besarnya kira-kira dua meter persegi. Batu itu digunakan sebagai altar tempat kurban-kurban dan sajian. Kini arti dari semua itu telah hampir lenyap.
Dalam keyakinan religi mereka masih mempercayai hal-hal yang akan membawa bencana bagi yang tidak menjalankannya. Misalnya menjalankan upacara bersih desa, yang mencakup bangunan-bangunan baileu, rumah-rumah dan pekarangan. Bila tidak dilakukan dengan baik maka orang bisa jatuh sakit, kemudian mati. Seluruh desa bisa terjangkit penyakit atau panennya gagal.
Komposisi pemeluk agama di sana pun sangat variatif di mana Islam adalah agama mayoritas (Islam 54%, Kristen 44,3%, lain-lain 1,7 %). Di Ambon yang beragama Islam juga adanya dua golongan penganut yang mungkin disamakan dengan penganut Islam di Jawa yaitu abangan dan santri
ILMU PENGETAHUAN
Orang Ambon mengenal upacara cuci negeri yang pada umumnya sama dengan upacara bersih desa yang dilakukan orang di pulau Jawa. Semua penduduk desa harus membersihkan sesuatu dengan cara yang baik dan benar. Bangunan bangunan yang harus dibersihkan adalah Baileu, rumah rumah warga dan pekarangan, bila tidak dilakukan dengan benar maka akan ada sangsinya yaitu mereka akan jatuh sakit. Seluruh warga desa akan terkena wabah penyakit atau panennya gagal.
Orang Maluku Tengah pada umumnya mengenal upacara pembayaran kain berkat, yang dilakukan oleh klen penganten laki laki, kepada kepala adat dari desa penganten perempuan, pembayaran itu berupa kain putih serta minuman keras atau tuak, kalau hal ini dilupakan keluarga muda ini akan menjadi sakit dan mati.
